Selayang Pandang

  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
Seminar Penelitian Kualitatif PDF Print E-mail
Written by admin   
Friday, 02 December 2011 03:41

PELATIHAN NASIONAL METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF

 

drsunarto burhanpuji23

 

 

GROUNDED THEORY

UNTUK PENELITIAN KOMUNIKASI

  

(Spesial Kasus PenelitianBrand Destinasi)

 

Oleh:

M. Burhan Bungin

 

 

1. Pendahuluan

STUART A. SCHLEGELadalah orang yang berjasa memperke-nalkan Grounded Theory(Grounded Research) di Indonesia pada akhir tahun 1970-an melalui Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial. Grounded Theory (GT), ketika itu diperkenalkan sebagai satu-satunya model riset kualitaitif yang digunakan dan memiliki kehandalan dibidang ilmu sosiologi dan antropologi.

Pikiran-pikiran Schlegel tentang GT saat itu lebih cenderung dipengaruhi oleh antropologi yang  sangat fenomenologis, sehingga GT cenderung hanya bisa digunakan pada penelitian antropologi dan sosiologi.

Mulai saat itu dan lebih dari 20 tahun berikutnya, di Indonesia, penelitian kualitatif dipengaruhi oleh GT sebagai media utama di dalam penelitian kualitatif.

Tahun 90-an,Miles danHuberman (1994), memperkenalkan model analisis kualitatif yang sebenarnya adalah juga digunakan di dalam GT, namun ditafsir lain oleh kalangan akademisi di Indonesia sebagai model sederhana dari penelitian kualitatif. Pikiran-pikiran Miles dan Huberman (1994) ini ditafsirkan dengan biasbahwa penelitian kualitatif adalah penelitian kuantitatif minus statistik.

Pada tahun 2000, Bungin (2000& 2001) memperkenalkan tiga format penelitian kualitatif, yaitu; 1) format deskriptif, format verifikatif dan 3) format grounded research melalui 2 bukunya, yaitu Metode Penelitian Sosial; Format Kualitatif dan Kuantitatif (2000) dan Penelitian Kualitatif  (2002). Berikutnya Creswell (2008) mengatakan bahwa pendekatan kualitatif terdiri dari grounded theory, ethnografi dan narative.

Perlu diingat kembali bahwa umumnya penelitian kualitatif; 1) bersifat interpretif; 2) bersifat eksploratif; 3) ada keterbatasan pada masing-masing metode kajian yang sifatnya spesifik karena apa yang dihadapi oleh peneliti komunikasiberbeda dengan fenomena yang dihadapi oleh peneliti lain, atau dengan kata lain bersifat kasuistik; 4) peneliti komunikasi memiliki kekebasan untuk mengembangkan sendiri metode kajian yang akan digunakan.

Di dalam hal GT seperti yang di katakan oleh Creswell (2008, p. 60), metode ini digunakan untuk mengeksplor pengalaman orang banyak dari berbagai individu untuk mengkonfirmasi teori yang ada dan kalaupun dimungkinkan peneliti komunikasi mengembangkan suatu teori atau konsep baru.

Di bidang komunikasi, GT dapat mengeksplor pengalaman banyak orang di dalam berkomunikasi, di dalam penggunaan model-model komunikasi, di dalam menggunakan simbol-simbol, di dalam menganalisis isi komunikasi dan media komunikasi yang digunakannya. Bahkan di dalam komunikasi pemasaran, GT dapat digunakan di dalam bidang brand. Bagaimana brand digunakan, proses branding dan sebagainya. Sedangkan didalam Komunikasi Pariwisata, GT dapat digunakan untuk; 1) mengungkap pengalaman orang-orang yang terlibat dan mengetahui masalah-masalahbrand danbranding destinasi negara,masalah-masalah strategi komunikasi pemasaran destinasi, mengetahui hal-ihwal mengenai brand destinasi; 2) pihak-pihak yang terlibat atau mengetahui program-program strategi  komunikasi pemasaran destinasi; 3) memahami pengalaman wisatawan dan pelaku (pegiat) pariwisata.

Alasan utama menggunakan grounded theory pada penelitiankomunikasi adalah seperti yang di katakan oleh  Strauss dan Corbin, melalui pandangan merekayang postmodern (Denzin dan Lincoln, 2009, p. 349), mereka katakanbahwa; 1) prosedur grounded theory bersifat terbuka bagi berbagai pendekatan baru; 2) dapat menggabungkannya dengan beberapa metode lain termasuk pula dengan metode kuantitatif; 3) praktek penggunaan grounded theory selalu disesuaikan dengan wilayah atau objek yang sedang di selidiki, tujuan dan fokus penelitian, hambatan-hambatan yang dihadapi serta dapat pula disesuaikan dengan temperamen, kelebihan dan kekurangan peneliti; 4) setiap peneliti dapat mengembangkan dan mempraktekkan prosedur yang berbeda.

 

 

2. Strategi Grounded Theorypada Ilmu Komunikasi

Berasaskan penjelasan di atas, maka secara umum, penelitikomunikasi dapat membangun dan mengaplikasikan suatu pendekatan grounded theory pada penelitian komunikasi dengan menggunakan tiga langkah berikut ini:

 

Gambar 1:

Strategi Pertama

Strategi Ledakan Bola Salju (Explotion Snow Ball Strategy)


 Sumber:  Burhan, 2011, p.3

 Pada strategi pertama, seperti namanya, “ledakan bola salju”, peneliti komunikasi menggunakan masalah penelitian komunikasisebagai bongkahan salju utama yang diledakan untuk menarik berbagai macam pertanyaan di lapangan.

Berbagai pertanyaan selalu dibangun untuk menjawab masalah penelitian komunikasi dan di antaranya tak berguna dan harus di tinggalkan, sedangkan beberapa diantaranya perlu diperdalam dan direvisi, diperhalus dan diperjelas lagi, sehingga ledakan bola salju menjadi kristal pada beberapa kelompok pertanyaan yang telah direvisi diperdalam dan diperjelas, kemudian dikembangkan menjadi pertanyaan-pertanyaan baru menyerupai beberapa bola salju kecil.

 

Gambar2:

Strategi Kedua

Stategi Pelepasan Bola Salju (Discharge Snow Ball Strategy)

 

 Sumber:  Burhan, 2011, p.4

  

Pertanyaan-pertanyaan yang mengelompok menjadi bola-bola salju kecil, dikembangkan di lapangan melalui wawancara dan observasi secara bertahap, sehingga pertanyaan-pertanyaan itu berkembang menjadi semakin banyak melalui informan baru.

Pada kenyataan di lapangan, ada pertanyaan yang tidak memerlukan banyak informan namun terpusat pada informan-informan tertentu saja.

Pada strategi kedua ini penelitikomunikasi perbanyak memperoleh data maupun informasi dengan bertahap mengembangkan wawancara dengan informan baru, bertahap melakukan observasi lapangan, memperbanyak memperoleh dokumen yang diperoleh dari berbagai pihak, termasuk pakar dan pemerhati.

Peneliti komunikasi juga melakukan verifikasi terhadap hipotesis di lapangan untuk menguji hubungan-hubungan antara konsep-konsep yang dibuat, dan verifikasi ini terus dilakukan peneliti selama penelitian komunikasi ini berlangsung.

 

Gambar: 3

Strategi Ketiga

Strategi Cerobong Asap


Sumber:  Burhan, 2011, p.4

 Pada strategi ketiga, semua pertanyaan peneliti komunikasimengerucut pada domain-domain yang menjawab masalah penelitian komunikasi. Strategi ini digunakan  untuk melakukan sinergi terhadap semua pertanyaan dan hipotesa yang telah dikembangkan dilapangan, sehingga mengerucut kepada masalah penelitianutama di dalam penelitian komunikasi ini.

Pada proses strategi ketiga ini, peneliti komunikasi lebih banyak merenung, membaca, merevisi, membuat abstaksi kembali terhadap berbagai data maupun informasi yang sudah di peroleh, bertanya dan berdiskusi lagi dengan kelompok-kelompok kecil untuk mendengar respon dan kritik mereka terhadap draf tulisan yang telah di buat, kemudian menulis lagi, membaca lagi dan kembali merenung tulisan-tulisan itu. Peneliti komunikasi akhirnya membuat simpulan-simpulan yang oleh peneliti menjadi tulisan akhir dari penelitiankomunikasi ini.

Di dalam menggunakan ketiga-tiga strategi grounded theory di atas, penelitikomunikasi secara tradisional menggunakan wawancara dan observasi serta dokumentasi sebagai media utama dari grounded theory.

Sebagaimana Strauss dan Corbin (2009) katakan,bahwagrounded theory hampir sama dengan teori-teori lain yang digunakan di dalam penelitian kualitatif, sumber data dan metode yang digunakan di dalam pengumpulan data adalah wawancara dan observasi lapangan, begitu pula penggunaan berbagai jenis bahan-bahan dokumenter.

 

3. Kritik terhadap Grounded Theory

Grounded theory sesungguhnya bukan metode kajian yang serba bisa, sebagaimana pula dengan metode-metode kajian yang lain, grounded theory mengalami kesulitan ketika digunakan pada bidang-bidang di luar antropologi ataupun sosiologi tradisional. Grounded theory sangat berhasil ketika memberi kebebasan kepada peneliti membangun kerangka penelitian yang sesuai dengan sifat-sifat dan karakter objekpenelitian. Namun masuk pada fase melakukan interpretasi terhadap data-data penelitian, terlihat grounded theory memerlukan bantuan dari metode-metode kajian lainnya (Strauss & Corbin, 2009, Denzin & Linconln, 2009, p. 352).

Jadi, walaupun telah menggunakan wawancara, observasi dan bahan dokumenter, namun ketika peneliti melakukan interpretif terhadap objek-objek komunikasi, seperti logo, tageline,bahan visual lainatau bahan-bahan non-fenomenologi lain,peneliti komunikasiakan merasa menemukan kesulitan-kesulitan.

Khususnya pada penelitian komunikasi tentang logo, brand destinasi, kesulitan yang akan dihadapi umpamanya seperti; 1) di dalam melakukan penafsiran terhadap logo-logo brand ataupun bentuk-bentuk komunikasi visual lainnya; 2) mengembangkan pertanyaan-pertanyaan di sekitar konstruksi sosial yaitu bagaimana penafsiran komunikan dan penerima pesan, seperti apa yang dipikirkan dan ditafsirkan komunikan, apakah juga sama yang ditafsirkan dan dipikirkan penerima pesan (manusia); 3) menelusuri berbagai pengalaman strategi komunikasi (pemasaran) dan sebagainya.

Untuk mengatasi kesulitan grounded theory ini, maka penelitiankomunikasi dapat menggunakan beberapa metode kajian lain berikut ini:

 

a.Analisis isi (content analysis)kualitatif

Analisis isi kualitatif digunakan oleh peneliti komunikasi untuk mengkaji konten makna yang ada pada objek-objek komunikasi, yaitu melakukan interpretif terhadap simbol-simbol, logo-logo dan brandyang digunakan di dalam bidang komunikasi. Sebagaimana dikatakan oleh (Krippendorff, 1991, p. 29), analisis isi kualitatif, membantupeneliti komunikasiuntuk mengkaji keajegan isi komunikasi secara kualitatif, yaitupeneliti komunikasi memaknakan isi komunikasi, membaca simbol-simbol, memaknakan isi interaksi simbolik yang terjadi dalam komunikasi.

Penelitian kualitatif dengan menggunakan analisis isi ini pernah digunakan pada karya-karyabesarseperti yang dilakukanoleh Max Weber dalambukunyaThe Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Dalam karya ini Max Weber berusaha menafsirkanmakna apa dari"Spirit of Capitalism",terutama dari apa yang ditulis oleh Benyamin Franklin. Namun, Weber lebih banyak bertitik tolak dari kasus-kasus konkret yang bertujuan untuk menciptakan tipe-tipe ideal (ideal types)dari hanya menghasilkan suatu deskripsi objektif dan sistematik dari tulisan Franklin. Jadi, dalam hal mengsifatkan "Protestant Ethic dan Spirit of Capitalism", maka Weber mengkaji isi tulisan Franklin secara ideal (Krippendorff, 1991, p. 29).

Penggunaan analisis isi, sebagaimana dijelaskan oleh Krippendorff di atas yaitu ketika peneliti komunikasi  memaknakan isi komunikasi atau memaknakan simbol-simbol komunikasi yang digunakan oleh subjek-objek penelitian. Penafsiran isi makna dilakukan dengan melihat kenyataan bahwaisi dan media komunikasi itu digunakan. Berbagai faktor lain sebagai konteks sosial di manapenelitikomunikasi berpijak ikut pula menentukan makna sebagai suatu keterkaitan antara data dan konteks sosial komunikan berada.

 

b. Analisis semiotik

Penelitikomunikasi juga pula menggunakan analisis semiotik untuk membantu membaca tanda-tanda bahasa yang ada pada isi dan media komunikasi digunakan.

Sebagaimana diketahui bahwa semiotikadalah sebuah model pemahamanduniasebagaisistemhubungan yang memiliki unit asas yang disebutdengan“tanda”. Dengandemikiansemiotikmempelajarihakikattentangkeberadaansuatutanda. Umberto Eco menyebuttandasebagai "kebohongan" (Sobur, 2004, Gottdiener, 1995, Listiorini, 1999).

Menurut Saussure, persepsidanpandangankitatentangrealitas, dikonstruksikanoleh kata-kata dantanda-tanda lain yang digunakandalamkontekssosial. Hal inidianggapsebagaipendapat yang cukupmengejutkandandianggaprevolusioner, karenahalituberertitandamembentukpersepsimanusia, lebihdarisekadarmerefleksikanrealitas yang ada (Sobur, 2004, Listiorini, 1999, Bignell, 1997).

Karenaitu, salahsatucarauntukdapatmembacarealitasadalahdengancaramemahanikonteksnya. Lewatkonteks, peneliti komunikasidapatmemahamimakna masalah yang adadanpemecahanmasalah yang ditampilkantidakberlakuuntukkonteks yang lain. Dalamkasusisidanmediakomunikasi yang digunakanoleh penelitikomunikasi dituntun untuk memahami mengapa isi dan media komunikasi digunakan. Konteks di manakomunikan dan penerima pesanmenggunakan isi dan media komunikasiitu tidak saja sebagai makna, namun juga sebagai tanda bahasa.

Ada beberapa pandangan semiotik yang dikatakan oleh Noth (2006, p. 39-74) dibuat oleh para ahli seperti Morris (1925, 1971), Saussure (916, 1916a, 1916b, 1916c), Peirce (1931-58), Hjelmslev (1943), Jakobson (1914-1920, 1920-1939, 1939-1949, 1975, 1982).

Namun, penelitiankomunikasilebih banyak menggunakan pandangan Peirce (Noth, 2006, p. 45) tentang hubungan tanda dengan objek dibagi menjadi tiga yaitu; 1) Ikon (kualitas) sesuatu yang melaksanakanfungsisebagaipenanda yang serupadenganbentukobjeknya; 2) Indeks (objek) sesuatu yang melaksanakanfungsisebagaipenanda yang mengisyaratkanpetandanya; 3) simbol  (konvensi)sesuatu yang melaksanakanfungsisebagaipenanda yang olehkaidahsecarakonvensitelahlazimdigunakandalammasyarakat. Serta pandangan Saussure (Noth, 2006, p. 60) tentang dua sisi tanda yaitu; 1) signifie atau petanda (konsep) dan; 2) signifiant atau penanda (pemberian konstruksi sosial-bunyi).

Pandangan-pandangan semiotik Peirce dan Saussure membantu penelitikomunikasi ketika melakukan konfirmasi terhadap teori untuk memahami tanda-tanda bahasa yang ada di dalamproses komunikasi. Pandangan semiotik Peirce dan Saussure pula dikonfirmasi di lapangan saat berdiskusi dengan  informan tentang makna isi dan media komunikasi yang digunakan tersebut.

 

c. Hermeneutik

Hermeneutik juga dapat digunakan untuk membantu peneliti komunikasi memahami semua aspek kebahasaan  dan terutama membantu metode semiotika di atas di dalam mengkonfirmasi makna bahasa di dalam proses komunikasi.

Seperti yang dianjurkan oleh Palmer (2003, p. 231) tentang penggunaan hermeneutik, maka penggunaan hermeneutik di dalam penelitiankomunikasi dilakukan dengan dua cara, yaitupertama, melakukan penafsiran terhadap bahasa melalui penafsiran gramatikal, yaitupenelitikomunikasi membahasakan atau menafsir semua informasi yang diperoleh di dalam penelitian ini sebagaimana bahasa informasi itu digunakan. Kedua, peneliti komunikasi melakukan penafsiran psikologis kepada semua informasi yang diperoleh di dalam penelitian  untuk menangkap makna yang terkandung di dalam setiap informasi.

Hermeneutik, dapat membantu penelitikomunikasi di lapangan disaat berhadapan dengan jawaban-jawaban informan terhadap makna komunikasi.

 

d. Social construction of reality (SCOR)

Social construction of reality atau teori konstruksi sosialatas realitas (Berger &Luckmann, 1966) dapat pula membantu penelitikomunikasi di lapangan  disaat menganalisis kekuatan (daya) konstruksi sosial suatu logo, brandatau media komunikasi lain yang digunakannya.

Sebagaimana dijelaskan di depan tentang  brand,  Yuwohady (2008, p. 280) bahwabrand boleh mengandung asosiasi dan image, memiliki kualitas kuat tak tertandingi namun yang penting brand harus menjadi cult (cara memuja), yaitu pencapaian tertinggi branddi mana suatu brand menjadi kepercayaan.

Peneliti komunikasi dibantu oleh Berger dan Luckmann (1966), ketika melakukan konfirmasi terhadap langkah-langkah konstruksi sosial atas media komunikasi melalui tiga langkah simultan yaitu subjektivasi, objektivasi dan internalisasi.

  

4. Penentuan Bentuk Metode Kajian yang Digunakan

Berasaskan pada penjelasan mengenai metode kajian grounded theorydi atas, maka di dalam penelitiankomunikasi,peneliti komunikasidapat menamakan metode kajian dengan nama metode open gounded theory. Yang dimaksud dengan open grounded theory ini adalah  peneliti komunikasi menggunakan tiga strategi grounded theory dengan memberi ruang terhadap penggunaan metode-metode lain secara bersama-sama disaat pengumpulan data untuk melengkapi kekurangan grounded theory.

Karakter utama dari open grounded theory yang diamalkan oleh peneliti komunikasi ini adalah fleksibel di dalam menerapkan tiga strategi, artinya urutan pelaksanaan grounded theory bermula dari strategi ledakan salju, sedangkan strategi pelepasan bola salju dan strategi cerobong asap dilakukan bersama-sama secara simultan. Penggunaan open grounded theory juga fleksibel terhadap semua metode penelitian lain, selama metode itu  bermanfaat bagi open grounded theory yang sedang digunakan.

Didalam pelaksanaan open grounded theory, peneliti komunikasi dapat meninggalkan metode yang dahulunya digunakan untuk membantu open grounded theory apabila dirasakan bahwa metode itu tidak berguna lagi karenamasalah penelitian telah berubah.

Karakter utama lain dari open grounded theory ini ketika peneliti komunikasi menggunakannya di lapangan, terasa bahwa  semua struktur strategi memiliki turbulansi terhadap informasi, artinya bahwa strategi yang ada dapat menyesuaikan dengan kepentingan data dan informasiserta ruang-ruang kosong di dalam strategi dapat diisi pula oleh bentukan-bentukan strategi yang lain.

5. Cara menemukan InformanPenelitian

Pada awalnya, seringkali dirasakan di lapangan penelitian,  sulit menemukan informan yang benar-banar faham terhadap objek penelitian komunikasi, terutama  menemukan informan-informan yang serius memberi waktunya untuk diwawancara, maka peneliti komunikasi dapat  menggunakan dua cara persampelan dan penentuan sumber informasi.

Untuk memperoleh data dan informasi,peneliti komunikasi dapat menggunakan dua cara; 1) key person, yaituorang yang tahu tentang isi dan media komunikasi; 2)peneliti komunikasi juga dapat menggunakan snowball, yaitu terus melakukan wawancara dengan berbagai informan.

 

Tabel: 1

 

Contoh Kategori AKTUALITas Informan

PENELITIAN KOMUNIKASI

 

 

Informan

Kategori Informan

Profil Singkat

01

Tanya

Pemerhati pariwisata/institusi pariwisata

Berwarganegara Rusia, usia 32 tahun, bekerja sebahagai kaki tangan ejen pariwisata di Thailand, pernah bekerja di Jakarta, menikah dengan, saat temubual bersama peneliti, informan sedang berlibur di Kualalumpur sambil mengurus pembaharuan visa masuk ke Thailand.

02

Muhammad Saleem

Wisatawan

Berwarganegara Arab Saudi, laki-laki, usia 30 tahun, bekerja sebagai usahawanan dan datang ke Malaysia bersama istri.

03

Abeel

Wisatawan

Berwarganegera UEU, wanita,  berusia 25 tahun, perempuan,  belum bekerja, datang ke Malaysia bersama group untuk melancong dan bersenang-senang.

04

Muhammad Sayyid Al Zubair

Wisatawan

Berwarganegara UEA, laki-laki, usia 25 tahun, bekerja sebagai usahawanan, datang ke Malaysia untuk melancong dan berbulan madu

05

Abubakar Rabie

Wisatawan

Warganegara Aljazair, laki-laki, usia 23 tahun, usahawan, datang ke Malaysia untuk melancong bersama group.

06

Ahmad Nizam Sharif dan Amir Awang

Pencipta brand/ kreator/institusi periklanan   menciptakan brand destinasi

Warganegara Malaysia, laki-laki, usia 30 th/40 th, bekerja sebagai kreator di Pernumbra, Agensi Brand di Kualalumpur

07

Nor Amanah Latif

Pencipta brand/ Kreator/institusi periklanan   menciptakan brand destinasi

Warganegara Malaysia, perempuan, usia 30 th, bekerja sebagai kreator di TBWA\TEQUILA, Agensi Brand di Kualalumpur, tinggal di Kualalumpur

08

Mohmed Razip Hasan

Pejabat negara/kementerian PariwisataMalaysia

Warganegara Malaysia, laki-laki, usia 50 th., Pengarah Komunikasi dan Publisiti Kementerian PariwisataMalaysia, tinggal di Kualalumpur

09

Mudi Astuti

Pemerhati/

pegiat pariwisata

Warganegara Indonesia, wanita, usia 35 th., Managing Director Bloomngdale Worldwide Partners,  tinggal Kualumpur dan Jakarta

10

Dina

Pejabat negara/kementerian Pariwisata Indonesia

Warganegara Indonesia, wanita, usia 40 th., Pejabat Bagian Pemasaran Pariwisata, Kementerian BUDPAR RI, tinggal di Jakarta

11

Fernandes

Wisatawan

Warganegara Amerika, laki-laki, usia 30 th., sebagai mahasiswa ilmu politik international, tinggal Colorado. Saat temubual dengan peneliti, informan sedang berlibur di Banda Neira

12

Patty Seery

Pemerhati/

Pegiat Pariwisata

Warganegara Amerika, wanita, usia 60 th., sebagai praktisi pariwisata, pemilik kapal Pesiar Selolona, berdomisili di Bali. Saat wawancara dengan penulis, informan sedang berlibur di Banda Neira.

13

Jeremi

Wisatawan

Warganegara Amerika, wanita, usia 35 th., ibu rumah tangga, domisili di New York. Saat wawancara dengan peneliti, informan sedang berlibur di Kuala Lumpur

14

Roslan bin Othman

Pejabat  pariwisata/ kementerian PariwisataMalaysia

Warganegara Malaysia, laki-laki, usia 35 th., Penyelaras Pariwisata Kedah dan Thailand, domisili di Kedah Malaysia

15

Rosli Sukimen

Pejabat negara/kementerian Kedutaan Malaysia di Jakarta

Warganegara Indonesia, laki-laki, usia 45 th., Pejabat Pengarah Pariwisata Kedutaan Malaysia di Jakarta, domisili di Jakarta

16

Budi Haryono

Pemerhati

Warganegara Indonesia, laki-laki, usia 55 th., bekas kaki tangan Kementerian BUDPAR RI, domisili di Jakarta.

 

  

 

6. Rancangan Umum AnalisisData

Penggunaangrounded theory di dalam penelitian komunikasi, peneliti komunikasidapat menggunakan rancangan analisis  domain 1-taksonomik-domain 2, di mana rancangan analisis ini menggunakan model:

 

  1. Kategorisasi fenomena (dari semua key person di atas)  yang bertumpu  pada tema-tema pokok (permasalahan kajian) sehingga tergambarkan “gelembung-gelembung besar tematik”. Gelembung-gelembung ini menjadi pokok bahasan yang akan dikembangkan setiap saat dalam pencarian data di lapangan.
  2. Penguraian fenomena berasaskan tema pokok sehingga menjadi jari-jari atau subtema yang menyerupai jaring laba-laba (spider-net). Dengan demikian maka rancangan model analisis menjadi rangkain spider yang merangkai jaringan dari kategorisasi menjadi network kategorisasi dan mengurai network menjadi simpul-simpul.
  3. Mengabstraksikan simpul-simpul dan mengkonfirmasikannya dengan yang diketahuinya,sehingga dapat mengembangkan konsep-konsep atau teori baru atau bahkan telah menyempurnakan konsep-konsep dan teori tersebut sebahagai simpulan penelitian komunikasi.

 

 

 

 

 

DAFTAR BACAAN

 

 

Burhan, B. (2001a). Imaji Media Massa: Konstruksi dan Makna realiti Iklan Televisyen dalam Masyarakat Kapitalistik. Yogyakarta: Jendela.

 

Burhan, B. (2001b). Metodologi Penelitian Sosial, Format-format Kualitatif dan Kuantitatif. Surabaya: Universitas Airlangga Press.

 

Burhan, B.(2005). Analisis Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Press.

 

Burhan, B. (2006). Metodologi Penelitian Kuantitatif;  Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Prenada Media.

 

Burhan, B. (2009). Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Prenada Media

 

Burhan, B. (2008). Konstruksi realiti Sosial Media, Iklan Televisi dan Keputusan Konsumen serta Kritik Terhadap Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Jakarta: Prenada Media.

 

Burhan, B. (2010). Grounded Research dalam Masalah Kebijakan Publik, Jurnal Lembaga Penelitian Filsafat dan Kemasyarakatan, Thn. I/3, PDII, The BuBu Center.

 

Cozby, Paul C. (2009). Metods in Behavioral Research (Maufur, Trans.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Creswell, J. W. (2008), Educational Research; Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Reasearch. New Jersey: Pearson

 

Creswell, J. W. (2009), Research Disign; Qualitative, Quantitative, adn Mixed Methods Approaches. London: Sage Publications. Inc.

 

 

Daymon, C. dan Holloway, I. (2008). Qualitative Research Metods in Public Relation and Marketing Communication (C. Wiratama,Trans.). Yogyakarta: Bentang.

 

Deddy, M. dan Solutun. (2007). Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Rosda.

 

Hermawan, K.  (2007). On Brand. Bandung: Mizan.

 

Kotler, P.   (2003). Marketing Management. New Jersey: Prentice Hall

 

Krippendorff, K. (1991). Analisis Isi, Pengantar Teori dan Metodologi. Jakarta: Rajawali Press.

 

Vredenbregt, J. (1978) MetodedanTeknikPenelitianMasyarakat. Jakarta: Gramedia

 

Yuswohady, (2008). Crowd; Marketing Becomes Horizaontal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Yuswohady, J. M. dan Taufik. (2005). Positioning, Deferensiasi dan Brand; Memenangkan Persaingan dengan Segitiga Positioning, Deferensiasi dan Brand. Jakarta: Gramedia

 

Last Updated on Thursday, 02 February 2012 06:24
 

Company Profile